Kamis, 30 Juli 2015

Ikhlas

Menjaga Keikhlasan
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Dan tidaklah  mereka diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan ketaatan) kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus … (QS. Al-Bayyinah : 5)
قَالَ رسولُ اللهِ ص. قال اللهُ تبارك وتعالي أَنَا أَغْنَي الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرْكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman: “Akulah yang Mahakaya dari seluruh sekutu. Siapa saja yang beramal dengan menyekutukan Aku di dalamnya, maka Aku akan menyerahkan dirinya kepada sekutunya itu.” (HR Muslim).
Ayat dan hadits ini terkait dengan tuntutan atas seorang Muslim untuk selalu bersikap ikhlas dalam beramal. Tuntutan ini bersikap tegas sehingga ikhlas hukumnya wajib. Karena itu, ada konsekuensi seseorang yang amalnya tidak ikhlas akan ditolak, bahkan ia dimasukkan ke dalam neraka. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya orang yang pertama kali akan diadili pada Hari Kiamat adalah para syuhada. Dia akan dihadapkan kepada Allah. Lalu Allah memperlihatkan kenikmatan-Nya kepadanya dan dia pun mengakuinya. Allah kemudian bertanya, 'Karena apa kamu berbuat demikian (berperang di jalan Allah)?' Dia menjawab, 'Saya berperang semata-mata karena-Mu hingga saya gugur sebagai syahid.' Allah berfirman, 'Bohong kamu! Kamu berperang karena ingin disebut pahlawan!' Kemudian diperintahkan agar orang itu diseret wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.' Selanjutnya, seorang pembelajar, pengajar sekaligus pembaca Al-Quran dihadapkan kepada-Nya. Allah lalu memperlihatkan nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya. Allah lalu bertanya, 'Karena apa kamu berbuat demikian (belajar, mengajar dan membaca Al-Quran)?' Ia menjawab, 'Saya mempelajari ilmu dan membaca Al-Quran semata-mata karena-Mu.' Allah berfirman, 'Dusta kamu! Kamu mempelajari ilmu supaya disebut ulama dan kamu membaca Al-Quran supaya disebut qari!' Kemudian diperintahkan agar orang itu pun diseret wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka. Selanjutnya adalah seseorang yang dikaruniai harta yang banyak oleh Allah. Dia dihadapkan kepada-Nya. Allah lalu memperlihatkan kenikmatan-Nya kepadanya dan dia pun mengakuinya. Kemudian Allah bertanya, 'Apa yang telah kamu lakukan dengan harta kekayaanmu?' Dia menjawab, 'Saya tidak membiarkan satu jalan pun yang pantas diberi infak, kecuali saya menginfakkan harta saya semata-mata karena-Mu.' Allah berfirman, 'Kamu dusta! Kamu berbuat demikian agar kamu disebut dermawan dan kamu sudah mendapatkannya!' Kemudian diperintahkan agar orang itu pun diseret wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.'” (HR Muslim).
*****
Ikhlas sering didefinisikan oleh para ulama sebagai “beramal semata-mata karena Allah SWT, bukan karena selain-Nya”. Ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu gampang dipraktikkan. Meski seseorang sering ikhlas dalam beramal, tetapi tidak selalu keikhlasan itu mudah dijaga dalam seluruh amalnya. Tidak jarang, karena kelalaian, atau karena godaan setan, sesekali sikap ikhlas itu lenyap dari kalbunya. Misal, ada seorang da'i, karena sudah berhasil meraih kedudukan di masyarakat, ia mulai mengkomersialkan dakwahnya; ia lebih mengutamakan undangan ceramah dari pejabat dan orang kaya ketimbang undangan dari masyarakat biasa; ia berdakwah dengan materi-materi yang menghibur ketimbang menyampaikan kebenaran apa adanya karena khawatir dijauhi 'penggemar' dakwahnya; dll. Bahkan ada juga ulama yang lebih bersemangat diundang ke istana penguasa atau pejabat dan cenderung sering mengabaikan undangan dakwah dari sesama aktifis dakwah.  Padahal ulama salaf dulu sangat menjauhi istana para penguasa/pejabat. Atau, seorang pegawai yang hanya bersungguh-sungguh bekerja jika dipantau oleh atasannya. Namun ketika atasannya tidak di tempat, maka dia pun keluyuran. Demikian juga seorang pelayan masyarakat yang hanya bersungguh-sungguh melayani kepentingan masyarakat jika dia diberi sejumlah upah tambahan, meskipun dia sudah mendapatkan hak bagiannya setiap bulannya. Semua ini tentu saja cerminan dari telah bergesernya sikap ikhlas. Dan masih banyak contoh lainnya.
Ikhlas tentu tidak sekadar sikap tidak riya' (ingin dilihat orang) atau sum'ah (ingin didengar orang) dalam beramal, yang lebih mencerminkan sikap ingin dipuji manusia. Ikhlas bukan sekadar berorientasi “ke dalam”. Ikhlas pun akan selalu tercermin “ke luar”. Salah satunya cerminannya, seorang yang ikhlas dalam beramal akan selalu menjaga kualitas amalnya.  Seorang yang ikhlas dalam shalat, misalnya, akan selalu berusaha mempersembahkan shalat terbaik kepada Allah SWT; ia selalu berusaha menjaga waktu-waktu shalatnya; memelihara rukun-rukun maupun sunnah-sunnahnya; juga selalu berupaya untuk khusyuk dalam setiap shalatnya. Tidak ikhlas atau kurang ikhlas namanya jika seorang Muslim mempersembahkan ibadahnya kepada Allah SWT secara asal-asalan, asal gugur kewajiban.
Contoh lain: Seorang yang ikhlas dalam bekerja akan selalu berupaya mempersembahkan karya terbaik; ia akan bersedia mengorbankan sebagian waktunya untuk menghasilkan karya tersebut; selalu bersemangat dalam bekerja meski sering dihadapkan pada tantangan, hambatan dan gangguan. Tidak ikhlas atau kurang ikhlas namanya jika seorang pegawai mempersembahkan karya dengan kualitas minimalis dan apa adanya.
Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam barisan orang-orang yang ikhlas. Amin.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar