Sabtu, 08 Agustus 2015

Kisah Mang Yaya

Dikisahkan tentang seseorang (sebut saja Mang Yaya😂) mempunyai teman bernama si A, si B, dan si C. Terhadap ketiga temannya itu, Mang Yaya memberikan perlakuan yang berbeda-beda.


Kepada si A, yang menurutnya sangat istimewa, dilayani-lah apa-apa yang dimintanya. Tak peduli siang atau malam, mang Yaya akan menuruti semua permintaannya tanpa sedikitpun merasakan kelelahan.


Kepada temannya yang bernama si B, Mang Yaya melayaninya dengan penuh kasih sayang. 
Saat si B membutuhkan sesuatu, tanpa segan-segan ia akan memberikannya dengan setulus hati, tanpa mengharapkan imbalan atas segala sesuatu yang telah diberikannya.


Lain lagi kepada si C, mang Yaya memperlakukannya nyaris “biasa-biasa saja’ bahkan mungkin dipandang sebelah mata. Tiap si C lewat, ia hanya sekedar bertegur sapa saja. Tak ada sedikitpun kesan ingin mengajak ngobrol berlama-lama…walaupun sedikit terbersit dalam benaknya bahwa, bisa saja suatu saat nanti dirinya akan membutuhkan terhadap si C ini.


suatu waktu, mang Yaya membutuhkan pertolongan ketiga temannya itu karena sedang tersangkut masalah
datanglah ia kepada si A, lalu apa kata si A, " oh maaf mang Yaya, saya tidak bisa mengantar, kebetulan tidak ada siapa-siapa di rumah,"
kemudian mang Yaya teringat kepada temannya si B, "ah barangkali si B ini bisa menolong saya. Bertemulah ia dengan si B lalu berkata " B, tolong antar saya ya!". B menjawab," Baik saya bersedia mengantarmu, hanya saja sampai dengan pintu ya mang Yaya..."
mang Yaya berfikir, lha kalo sampai depan pintu, nggak ada yang bisa dijadikan saksi atas kasus yang menimpa saya...
dengan langkah gontai, berjalanlah mang Yaya pulang sembari di jalan membayangkan hukuman apa yang bakal diterima atas kesalahannya...tiba-tiba terlintas dalam benaknya kepada temannya yang satu lagi...ya, si C !!!....Pergilah ia menemui si C. Kepada si C ia mengutarakan maksudnya, lalu apa kata si C," Baik mang Yaya, saya akan menemani mang Yaya menemui atasan Mang Yaya. saya akan menjadi saksi bahwa mang Yaya memang benar...blababla...blablabla..."


ternyata teman yang selama ini dianggap "biasa-biasa saja" bahkan dianggap sebelah mata, tapi pada saat dibutuhkan si C lah yang menjadi temannya....
Nah… Sampai di sini mudah-mudahan bisa difahami😅


urang analogikeun misal A = harta benda, B = Keluarga, C = Amal Sholeh...


Sejatinya, yang menjadi teman manusia itu tidak hanya manusia saja, melainkan ada tiga macam : harta, keluarga, dan amal perbuatannya. Ketiga hal ini disebut sebagai teman karena keberadaanya dibutuhkan, di samping tentunya selalu menemani, menyertai dan melekat dengan manusia pada umumnya.


Yang Pertama adalah harta benda, segala bentuk benda atau materi yang secara hukum diakui secara sah kepemilikannya. Harta dipandang sebagai teman manusia karena keberadaannya dibutuhkan, dicari dan “dapat dimintai tolong” untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.


Yang kedua Keluarga -tentu saja ini dari ras manusia, kecuali kalau ada yang mengkalim bahwa dirinya memiliki kekerabatan dengan unta😆 : – adalah orang-orang yang berada dalam ikatan kekerabatan, masih memiliki hubungan darah, atau disatukan oleh ikatan pernikahan. Yang menjadi inti dari keluarga adalah ayah, ibu, istri/suami dan anak. Dalam prakteknya, orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki syarat-syarat sebagai keluarga bisa “dianggap” atau acap kali “diklaim” sebagai keluarga. Misalnya dalam hubungan persahabatan yang begitu kental, sehingga perlakuan kita terhadap sahabat seperti layaknya terhadap keluarga.


Adapun amal, adalah segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia dalam keadaan sadar serta memenuhi syarat kecakapan secara hukum (mukallaf atau tertaklif hukum). Amal atau perbuatan manusia akan berakibat secara hukum. Karenanya dalam hukum agama kita mengenal dua macam amal; amal baik dan amal salah (amal saleh dan amal buruk). Amal baik akan dibalas dengan pahala, sedangkan amal buruk dibalas dengan siksaan atau azab.


Dari ketiga macam teman tersebut, kata Rasulullah SAW ternyata hanya satu yang benar-benar teman setia, karena ia tidak hanya menemani kita ketika hidup, namun juga akan terus menemani kita sampai mati. Yang satu hal itu adalah amal perbuatan manusia.

Godaan Wanita

Antara Godaan Wanita dan Godaan Setan, Mana yang Lebih Dahsyat...?❓
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita,
إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar.” [Yusuf: 28]

Allah ta’ala berfirman tentang godaan setan,
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah.” [An-Nisa: 76]

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata,
هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ
“Ayat yang mulia ini (An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (Yusuf: 28), maka hasilnya adalah penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibanding tipu daya (godaan) setan.” [Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 2/217]

Asy-Syaikh AbdurRahman bin Nashir As-Si’di rahimahullah berkata,
والكيد: سلوك الطرق الخفية في ضرر العدو، فالشيطان وإن بلغ مَكْرُهُ مهما بلغ فإنه في غاية الضعف
“Tipu daya yang dimaksudkan di sini adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun tipu dayanya telah sedemikian rupa akan tetapi ia sangat lemah.” [Taysirul Karimir Rahman, hal. 187]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga telah mengingatkan,
إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ
“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan dan pergi dalam rupa setan, maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
قال العلماء معناه الاشارة إلى الهوى والدعاء إلى الفتنة بها لما جعله الله تعالى في نفوس الرجال من الميل إلى النساء والالتذاذ بنظرهن وما يتعلق بهن فهي شبيهة بالشيطان في دعائه إلى الشر بوسوسته وتزيينه له ويستنبط من هذا أنه ينبغى لها أن لا تخرج بين الرجال الا لضرورة وأنه ينبغى للرجل الغض عن ثيابها والاعراض عنها مطلقا

“Ulama berkata, makna hadits ini adalah peringatan dari hawa nafsu dan (bahaya) ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati-hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita dan merasa nikmat ketika memandang mereka dan apa yang terkait dengan mereka, maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan dengan bisikannya dan tipuannya. Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadits ini bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak), dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan; tidok boleh melihat pakaiannya dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Maka sungguh dahsyat godaan wanita, walaupun setan sudah mengerahkan segenap “potensi” yang ada pada dirinya untuk menyesatkan anak Adam, namun ternyata godaannya tidak bisa sejajar, apalagi melebihi godaan wanita. Akan tetapi sayang seribu sayang, ternyata setan pun bisa memanfaatkan wanita sebagai kaki tangannya, entah sang wanita sadar atau tidak.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا
“Wanita adalah aurat, apabila ia keluar dari rumahnya maka setan akan menghiasinya, dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafaz ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]
➡Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,
أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا
“Maknanya adalah setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan laki-laki dengannya.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
✏Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah