Kepada si A, yang menurutnya sangat istimewa, dilayani-lah apa-apa yang dimintanya. Tak peduli siang atau malam, mang Yaya akan menuruti semua permintaannya tanpa sedikitpun merasakan kelelahan.
Kepada temannya yang bernama si B, Mang Yaya melayaninya dengan penuh kasih sayang.
Saat si B membutuhkan sesuatu, tanpa segan-segan ia akan memberikannya dengan setulus hati, tanpa mengharapkan imbalan atas segala sesuatu yang telah diberikannya.
Lain lagi kepada si C, mang Yaya memperlakukannya nyaris “biasa-biasa saja’ bahkan mungkin dipandang sebelah mata. Tiap si C lewat, ia hanya sekedar bertegur sapa saja. Tak ada sedikitpun kesan ingin mengajak ngobrol berlama-lama…walaupun sedikit terbersit dalam benaknya bahwa, bisa saja suatu saat nanti dirinya akan membutuhkan terhadap si C ini.
suatu waktu, mang Yaya membutuhkan pertolongan ketiga temannya itu karena sedang tersangkut masalah
datanglah ia kepada si A, lalu apa kata si A, " oh maaf mang Yaya, saya tidak bisa mengantar, kebetulan tidak ada siapa-siapa di rumah,"
kemudian mang Yaya teringat kepada temannya si B, "ah barangkali si B ini bisa menolong saya. Bertemulah ia dengan si B lalu berkata " B, tolong antar saya ya!". B menjawab," Baik saya bersedia mengantarmu, hanya saja sampai dengan pintu ya mang Yaya..."
mang Yaya berfikir, lha kalo sampai depan pintu, nggak ada yang bisa dijadikan saksi atas kasus yang menimpa saya...
dengan langkah gontai, berjalanlah mang Yaya pulang sembari di jalan membayangkan hukuman apa yang bakal diterima atas kesalahannya...tiba-tiba terlintas dalam benaknya kepada temannya yang satu lagi...ya, si C !!!....Pergilah ia menemui si C. Kepada si C ia mengutarakan maksudnya, lalu apa kata si C," Baik mang Yaya, saya akan menemani mang Yaya menemui atasan Mang Yaya. saya akan menjadi saksi bahwa mang Yaya memang benar...blababla...blablabla..
ternyata teman yang selama ini dianggap "biasa-biasa saja" bahkan dianggap sebelah mata, tapi pada saat dibutuhkan si C lah yang menjadi temannya....
Nah… Sampai di sini mudah-mudahan bisa difahami
urang analogikeun misal A = harta benda, B = Keluarga, C = Amal Sholeh...
Sejatinya, yang menjadi teman manusia itu tidak hanya manusia saja, melainkan ada tiga macam : harta, keluarga, dan amal perbuatannya. Ketiga hal ini disebut sebagai teman karena keberadaanya dibutuhkan, di samping tentunya selalu menemani, menyertai dan melekat dengan manusia pada umumnya.
Yang Pertama adalah harta benda, segala bentuk benda atau materi yang secara hukum diakui secara sah kepemilikannya. Harta dipandang sebagai teman manusia karena keberadaannya dibutuhkan, dicari dan “dapat dimintai tolong” untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Yang kedua Keluarga -tentu saja ini dari ras manusia, kecuali kalau ada yang mengkalim bahwa dirinya memiliki kekerabatan dengan unta
Adapun amal, adalah segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia dalam keadaan sadar serta memenuhi syarat kecakapan secara hukum (mukallaf atau tertaklif hukum). Amal atau perbuatan manusia akan berakibat secara hukum. Karenanya dalam hukum agama kita mengenal dua macam amal; amal baik dan amal salah (amal saleh dan amal buruk). Amal baik akan dibalas dengan pahala, sedangkan amal buruk dibalas dengan siksaan atau azab.
Dari ketiga macam teman tersebut, kata Rasulullah SAW ternyata hanya satu yang benar-benar teman setia, karena ia tidak hanya menemani kita ketika hidup, namun juga akan terus menemani kita sampai mati. Yang satu hal itu adalah amal perbuatan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar